Namanya 'Klub Nuklir':NATO Minggir! Dunia Punya Geng Baru
Foto:Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Kirgistan Sadyr Japarov, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev dan Presiden Tajikistan Emomali Rakhmon --
DISWAYPROBOLINGGO.ID.Perang Nuklir Bisa Terjadi Terjadi Adu Geng Yang Mana ,Dunia kini punya geng baru. Geng ini merupakan "klub nuklir".
Hal ini dikatakan mantan (eks) presiden Rusia, yang juga sekutu Presiden Vladimir Putin, Dmitry Medvedev. Menurutnya, kondisi saat ini memperlihatkan bagaimana jumlah negara dengan senjata nuklir segera bertambah.
"Beberapa negara akan mempertimbangkan opsi optimal memiliki senjata nuklir," Ungkapnya dimuat Newsweek, Selasa 27 Januari 2026.
BACA JUGA:Usut Korupsi Kuota Haji:KPK Informasi Bos Maktour Dibutuhkan
BACA JUGA:Rudal Balistik Diluncurkan :Kim Jong Un Ngamuk
"Saya percaya bahwa 'klub nuklir' akan ramai muncul ke depan," tegasnya.
Pernyataan Medvedev ini merujuk kemungkinan konsekuensi dari berakhirnya perjanjian proliferasi nuklir bulan depan. Ini merupakan kesepakatan yang disepakati secara internasional oleh sejumlah negara tentang pembatasan senjata nuklir.
Merujuk Kommersant, Putin belum menerima tanggapan atas tawaran Moskow kepada Washington untuk memperpanjang perjanjian New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) yang membatasi persaingan nuklir. Padahal perjanjian berakhir 5 Februari.
BACA JUGA:Barang Bukti:Disita Polri Kantor Pinjol DSI Digeledah 16 Jam
BACA JUGA:Perubahan Dunia Total:Negara Dibuat Pakai AI
Dalam Hal ini, Gedung Putih mengatakan Presiden AS Donald Trump akan memutuskan jalan ke depan dalam pengendalian senjata nuklir. "Dia klarifikasi sesuai jadwalnya sendiri," tambah Washington.
Juga, New START membatasi senjata nuklir AS dan Rusia, yang memiliki 90% dari persediaan senjata nuklir dunia. Selain membatasi persenjataan pada 1.550 hulu ledak yang dikerahkan dan 700 rudal jarak jauh dan pesawat pembom berat yang dikerahkan masing-masing, perjanjian ini juga memungkinkan berbagi data, pemantauan, dan inspeksi untuk memverifikasi kepatuhan dan merupakan rem terhadap persaingan nuklir yang tidak terkendali.
Februari 2023, Putin sempat mengumumkan bahwa Rusia akan menangguhkan partisipasinya dalam New START karena dukungan Washington untuk Ukraina. AS yang kala itu di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden kemudian meniru langkah tersebut.
Sesudah Trump kembali menjabat pada Januari 2025, Putin menyerukan keterlibatan bilateral dalam pengendalian senjata. Putin tak bersikeras mengakhiri bantuan militer AS ke Ukraina.
Sumber: