Menjadi Ketakutan Donald Trump:China Makin Ganas
Foto: Xi Jinping dan Donald Trump. --
DISWAYPROBOLINGGO.ID.Paman Sam,Rabu 28 Januari 2026.Zaman pemerintahan Joe Biden hingga Donald Trump, Amerika Serikat (AS) berkali-kali mengeluarkan kebijakan untuk menghambat China dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI). AS selama ini menggembar-gemborkan kekhawatiran bahwa China akan menggunakan AI untuk memperkuat militernya.
BACA JUGA:Rudal Balistik Diluncurkan :Kim Jong Un Ngamuk
BACA JUGA:Respons:Obama-Clinton Imigrasi Trump 'Bunuh' Warga
Upaya AS menghambat perkembangan AI China paling terlihat dari regulasi pembatasan ekspor chip dan alat pembuat chip canggih untuk pengembangan AI ke China. Namun, Trump belakangan mulai melunak dan mengizinkan ekspor chip H200 buatan Nvidia ke China.Dalam Waktu Sama, China tampak makin gencar mengembangkan chip canggih secara mandiri, agar melepas ketergantungan dari teknologi AS.
Muncul, ketakutan AS mulai menjadi kenyataan. Laporan terbaru menyebut China tengah mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan produksi drone militer meniru perilaku hewan saat bertarung.
Penelitian yang dilakukan oleh engineer Beihang University, kampus yang terafiliasi dengan militer, menghasilkan sistem drone yang dapat berperilaku layaknya elang dan merpati.
Untuk modelnya, drone defensif bertindak seperti elang dengan menargetkan musuh paling rentan, sedangkan drone penyerang berperilaku seperti merpati untuk menghindari serangan.
Dpalam simulasi lima lawan lima, drone 'elang' mampu menghancurkan seluruh drone 'merpati' hanya dalam 5,3 detik. Inovasi ini telah memperoleh paten pada April 2024 dan menjadi bagian dari agenda pertahanan China dalam mengembangkan kawanan drone otomatis.
Dikatakan, inovasi senjata 'pembunuh' ini akan membuat militer China makin tangguh di mata global.
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) memandang AI sebagai kunci untuk mengoperasikan sistem tanpa awak, mulai dari drone hingga robot anjing, dengan intervensi manusia minimal.Para teoritikus militer China bahkan menyebut era AI sebagai revolusi peperangan baru, dengan operasi kawanan sebagai metode tempur utama, sebanding dengan dampak historis bubuk mesiu terhadap peperangan global.
BACA JUGA:Singapura: Peraturan Masuk Baru, Singapura Sortir Penumpang Awal Bandara Keberangkatan
BACA JUGA:Jembatan:Penghubung JIS-Ancol Pramono Galau Karena Namanya
Penggunaan drone sendiri sudah sangat signifikan dalam konflik modern, termasuk di Ukraina. China memiliki keunggulan pada sisi industri, dengan kapasitas produksi lebih dari satu juta drone murah per tahun, jauh di atas kemampuan produksi Amerika Serikat yang hanya puluhan ribu unit dan berbiaya lebih tinggi.Tak hanya drone, China telah memamerkan robot 'serigala' bersenjata yang dapat beroperasi bersama kawanan drone udara.Para analis menilai AI juga dapat menutupi celah dalam pelatihan PLA mengingat struktur komando yang sangat terpusat dan minimnya pengalaman tempur banyak komandan.Tak hanya terbatas pada pengendalian drone saja, dokumen pengadaan militer China menunjukkan riset pada sistem perang kognitif yang mampu menyiarkan deepfake, mengerahkan robot anjing, hingga menggunakan suara terarah untuk menyerang target.Meski masih dalam pengembangan, para ahli memperingatkan risiko jika keputusan mematikan dibuat tanpa kontrol manusia atau gagal dalam kondisi peperangan elektronik.China juga mengkaji perilaku hewan lain, termasuk semut, koyote, domba, paus, elang, hingga lalat buah untuk meningkatkan koordinasi kawanan drone.
The Wall Street Journal mencatat bahwa sejak 2022, setidaknya 930 paten terkait kecerdasan kawanan diajukan institusi yang terkait militer China, jauh di atas AS yang hanya sekitar 60 paten.
Sumber: