"Hanya mereka yang melarikan diri selama dua tahun terakhir yang diizinkan kembali. Mereka yang lahir di luar Jalur Gaza tidak akan diizinkan untuk kembali," Ujarnya Mahmoud mengenai kebijakan diskriminatif tersebut.
Merespons pengumuman sepihak tersebut, Hamas mendesak Israel untuk mengizinkan pergerakan keluar masuk Gaza tanpa batasan apa pun. Hamas juga menyerukan agar Israel mematuhi seluruh poin dalam perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati.
Dalam Hal ini, perang genosida yang dilancarkan Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menelan korban jiwa lebih dari 71.600 warga Palestina, menciptakan krisis kemanusiaan paling kelam di abad ini.