DISWAYPROBOLINGGO.ID.China,Kamis 01 Desember 2025.Perseteruan geopolitik Amerika Serikat dan China kembali menguat setelah dua kapal tanker raksasa berbendera China tetap beroperasi di sekitar perairan Venezuela, meski Washington mengumumkan blokade penuh terhadap negara Amerika Latin tersebut pada pertengahan Desember.
BACA JUGA:MANUSIA PERTAMA:Menang Pengadilan, Elon Musk Rp 12.000 Triliun
BACA JUGA:Negara Pertama: Israel Akui Kemerdekaan Somaliland
Pergerakan kapal-kapal ini menjadi ujian nyata atas efektivitas penegakan sanksi AS terhadap ekspor minyak Venezuela. pelacakan maritim dikutip dari Worldoil melaporkan, kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) Thousand Sunny terus melaju menuju Terminal Jose, salah satu pusat ekspor minyak utama Venezuela. Kapal tersebut tercatat tidak mengubah kecepatan maupun arah sejak Presiden AS Donald Trump menyatakan pemberlakuan blokade total pada 16 Desember. Tanker ini diketahui telah mengangkut minyak mentah Venezuela ke China secara rutin selama sekitar lima tahun terakhir.
BACA JUGA:Ayah Dan Anak Terciduk OTT:KPK Tetapkan Bupati Bekasi Tersangka Suap Ijon Proyek
BACA JUGA:Banyuwangi:Tambang Tujuh Bukit Menerima 72% Tenaga Kerja Lokal
Dalam Hal ini, kapal tanker China lainnya, Xing Ye, terpantau berada di lepas pantai Guyana Prancis. Kapal tersebut dilaporkan tengah menunggu jadwal pemuatan minyak mentah, setelah sebelumnya terakhir kali mengangkut minyak Venezuela pada Agustus lalu. Kedua kapal tidak masuk dalam daftar sanksi AS dan mengibarkan bendera China, sehingga berpotensi memicu eskalasi diplomatik apabila dilakukan upaya intersepsi. Catatan industri menyebutkan, kedua tanker tersebut sebelumnya dimiliki oleh China National Petroleum Corporation (CNPC) sebelum dijual kepada pembeli yang tidak diungkapkan identitasnya pada 2020. Penjualan ini diyakini sebagai bagian dari skema untuk menjaga kelangsungan ekspor minyak Venezuela ke China di tengah tekanan sanksi Barat, sekaligus mekanisme pembayaran utang Caracas kepada Beijing. Tekanan eksternal itu mulai berdampak langsung terhadap sektor hulu migas Venezuela. Perusahaan minyak negara PDVSA dilaporkan mulai menutup sejumlah sumur di kawasan Sabuk Orinoco sejak akhir Desember, menyusul kapasitas penyimpanan yang hampir penuh. Produksi di wilayah tersebut ditargetkan turun sedikitnya 25% menjadi sekitar 500.000 barel per hari, atau setara pemangkasan 15% dari total produksi nasional.
BACA JUGA:Jinping Menang: Donald Trump Menyerah ke China
BACA JUGA:Gerakan Bela Negara:Jadi Sorotan,Ayu Aulia Bukan Tim Kreatif Kemhan
mencerminkan situasi genting yang dihadapi pemerintahan Presiden Nicolás Maduro, mengingat pendapatan minyak merupakan tulang punggung ekonomi Venezuela. Penutupan sumur dinilai sebagai opsi terakhir karena tingginya biaya operasional serta risiko teknis saat produksi harus kembali dinyalakan. Di sisi lain, Venezuela mulai meningkatkan pengamanan jalur ekspor minyaknya. Kapal-kapal penjaga pantai dilaporkan mengawal tanker yang meninggalkan pelabuhan-pelabuhan di wilayah timur, meski pengamanan tersebut masih terbatas di perairan teritorial. Beberapa pengiriman produk minyak ke pasar Asia pada pertengahan Desember diketahui berangkat dengan perlindungan unsur angkatan laut. Ketegangan internasional pun meluas ke forum global. Dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB, China dan Rusia secara terbuka mengecam langkah AS. Beijing menilai blokade tersebut melanggar hukum internasional, sementara Moskow menyebutnya sebagai bentuk agresi. Di tengah eskalasi itu, perusahaan energi AS Chevron tetap mengekspor minyak Venezuela ke Amerika Serikat berdasarkan lisensi khusus pemerintah AS, menegaskan kompleksitas kepentingan energi di tengah konflik geopolitik yang kian memanas.