Tidak Terdaftar:Orang Terkaya,Punya Rp101 Triliun, Mengapa Haji Isam

Tidak Terdaftar:Orang Terkaya,Punya Rp101 Triliun, Mengapa Haji Isam

Foto:Intip Harta Kekayaan Haji Isam, Orang Kaya yang Menghadap Presiden--

DISWAYPROBOLINGGO.ID.Jakarta, Minggu 11 Januari 2026.Konglomerat Haji Isam, pengusaha asal Kalimantan yang bernama lengkap Samsudin Andi Arsyad, tercatat memiliki kekayaan yang mencapai Rp101 triliun. Nilai hartanya terus bertambah seiring melesatnya harga saham sejumlah perusahaan terbuka yang berada di bawah kendalinya.

Kenaikan saham yang signifikan tersebut bahkan beberapa kali menempatkan saham-saham milik Haji Isam dalam pantauan otoritas bursa hingga sempat dikenakan penghentian sementara perdagangan akibat lonjakan harga yang dinilai terlalu ekstrem.

BACA JUGA:Logam Mulia Harga Emas: Mengintai Rekor Baru

BACA JUGA:Terdakwa Chromebook:Saksi Katakan Main ke Rumah

Kendati namanya kian mencuat ke publik, Haji Isam masih dikategorikan sebagai konglomerat pendatang baru jika dibandingkan dengan dinasti bisnis mapan seperti keluarga Salim, Wijaya, dan Hartono.

Kekayaan Haji Isam melonjak signifikan beberapa tahun terakhir khususnya setelah perusahaannya melantai di Bursa Efek Indonesia. Meskipun sejumlah harta kekayaannya juga digenggam lewat kepemilikan saham di perusahaan non-publik.harta Haji Isam yang terikat secara langsung dan tidak langsung lewat JARR mencapai Rp 30,97 triliun. Dalam Hal ini, harta keluarga Haji Isam yang terikat secara tidak langsung lewat PGUN mencapai 67,54 triliun. Lalu terakhir hartanya yang terikat di TEBE lewat kepemilikan tidak langsung senilai Rp 2,79 triliun. Artinya secara total harta kekayaan Haji Isam di perusahaan publik saja dan tercatat di BEI telah mencapai Rp 101,3 triliun atau lebih dari US$ 6,1 miliar.

BACA JUGA:Melorot Dratis Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Rabu 31 Desember 2025

BACA JUGA:Sidang Nadiem Makarim:Hakim Tegur Tentara

Angka tersebut diketahui lebih tinggi dari sejumlah nama besar yang lebih dulu masuk daftar orang terkaya versi Forbes, seperti bos Alfamart Djoko Susanto dengan kekayaan US$ 2,7 miliar hingga bos emiten tambang nikel Harita (NCKL) Lim Hariyanto dengan kekayaan US$ 5,2 miliar.Meski telah tembus Rp 100 triliun, nama Haji Isam masih belum masuk daftar orang terkaya Forbes. Namun ini bukan pertama kalinya Forbes telat merilis jajaran orang terkaya baru. Dua tahun lalu nama taipan tambang Agus Projo dan sejumlah pihak lain yang menggenggam saham AMMN baru masuk daftar orang terkaya pada publikasi tahunan di bulan Desember. Padahal Agus Projo hingga Alexander Ramlie resmi menjadi billionaire tepat saat AMMN melantai di bursa pertengahan tahun 2023.Publikasi tersebut terkenal rutin merilis daftar orang terkaya di seluruh dunia. Daftar yang dirilis oleh Forbes bisa dikatakan dapat menjadi acuan dibandingkan dengan daftar serupa lainnya.

BACA JUGA:Resmi Batal:Bupati Pati Kenaikan PBB 250 Persen

BACA JUGA:Tetap Masuk ke Ekonomi:Disclaimer Finansial Makro Purbaya Tarik Dana Pemerintah Rp 75 T

Dalam menghitung dan menentukan kekayaan para miliarder dunia, Forbes menggunakan nilai kekayaan bersih. Nilai kekayaan bersih merupakan perhitungan total aset kemudian dikurangi oleh total liabilitas.Aset yang dihitung merupakan total aset keseluruhan, baik aset lancar maupun aset tetap. Sama seperti di aset, liabilitas juga dihitung keseluruhan, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

"Kami menilai berbagai aset, termasuk perusahaan swasta, real estat, seni, dan banyak lagi. Kami tidak berpura-pura mengetahui neraca keuangan setiap miliarder (meskipun beberapa menyediakannya). Ketika dokumentasi tidak disertakan atau tersedia, kami mengabaikan kekayaan," tulis Forbes dalam laman resminya, dikutip Minggu 28 September 2025.Selain dari nilai kekayaan bersih, Forbes juga melakukan perhitungan dengan cara mengkalkulasi harga saham yang dimiliki oleh miliarder tersebut dan nilai tukar.Karena harga saham dan nilai tukar selalu fluktuatif, Forbes mengakui beberapa orang bisa dengan mudah mengalami kenaikan atau penurunan posisi di daftar mereka karena hal tersebut.Yang Mana, perhitungan ini umumnya digunakan oleh Forbes bagi mereka yang memiliki saham di perusahaan terbuka atau yang sudah terdaftar di bursa saham.

 

Sumber: